Napak Tilas - Perlunya Laboratorium Teknologi Polimer
Perlunya pendirian Laboratorium Teknologi Polimer diprakarsai sebagai bagian dari strategi penguasaan teknologi yang saat itu di pimpin Bapak BJ Habibie, pada tahun 1980. Saat itu, beberapa hal sudah mulai terbaca, misalnya persediaan minyak dunia semakin lama semakin menipis, sehingga tantangan teknologinya adalah bagaimana tersedianya teknologi yang mampu menjawab itu dengan rancangan yang hemat energi, baik dalam peralatan manufacture, transportasi dan lain-lain prasarana. Untuk bisa hemat energy, dibutuhkan material yang ringan, kuat dan tetap bisa memenuhi fungsinya. Maka mulailah eksplorasi material pengganti logam untuk berbagai aplikasi mulai dari permesinan, badan alat transportasi dan perkakas industri. Material yang dapat memenuhi fungsi itu adalah plastik dan komposit plastic. Dengan kata kunci plastik itulah, maka dipandang perlu untuk keterlibatan ilmuwan Indonesia dalam eksplorasi pengembangannya yang saat itu juga secara bersamaan dieksplore oleh ilmuwan-ilmuwan di luar negeri.
Pada tahun 1980 –an itu para pabrikan perkakas elektronik juga melihat celah keistimewaan material plastik & polimer untuk aplikasinya dalam dunia elektronik misalnya LED. Berkat eksplorasi para ilmuwan itulah saat ini sudah bisa dinikmati teknologi yang booming hampir menjadi kebutuhan setiap orang, yaitu Hand Phone yang multi fungsi sebagai prasarana telekomunikasi dan hiburan. Saat ini, kalau diamati berbagai prasarana kehidupan terbukti terbuat dari plastik. Dengan demikian bila melongok ke tahun 1980 tsb., adalah tidak salah bahwa membangun sebuah prasarana untuk mengeksplore “Plastic World” adalah suatu hal yang cukup berperan. Dengan melalui tahap-tahap perjuangan, Laboratoriun tersebut akhirnya berdiri dan mulai beroperasi pada tahun 2001, yang tentu saja selalu mengalami penyesuaian-penyesuaian sesuai dengan tuntutan jamannya.
Dalam rangka memperingati Ulang tahunnya yang ke 10, dengan mengumpulkan berbagai informasi dari personil-personil yang terlibat sejak awal ide penguasaan teknologi di bidang material plastik dilontarkan, maka disusunlah tulisan ini untuk menggambarkan proses bagaimana sebuah mimpi menjadi realitas dalam membangun Laboratorium Teknologi Polimer yang sekarang dalam kesehariannya disebut Sentra Teknologi Polimer.
Era tahun 1980 – 1990
Dengan restu dan dukungan Bapak BJ Habibie yang saat itu menjabat sebagai Menristek/Ka BPPT, sebagai langkah awal maka pada tahun 1982 (dengan SK Menristek No SK/091/KA/BPPT/VI/1982) tertanggal 12 Juli 1982, dibentuk Tim Pengembangan Laboratorium Teknologi Polimer yang bertugas merumuskan Konsep Dasar Kebijakan Pengembangan Laboratoriun Polimer yang tertuang dalam “Konsep Master Plan Laboratorium Polimer”.
Tim ini terdiri dari para ahli di bidang Material Plastik dari beberapa institusi, yaitu:
-
Pusat Pramuteknik Petrokimia -PERTAMINA (Dr. Ir. Ny.M. Sugandi Ratulangie)
-
Institut Teknologi Bandung (Prof.Ir. Soedarno, MChE.)
-
Lembaga Fisika Nasional (Dr. Nilyardi Kahar, Msc.)
-
LEMIGAS (Dr. Mulyono dan Dr. Rachman Subroto)
-
Federasi Pengemasan Indonesia (Bapak Koesoemawardhy)
-
Balai Besar Penelitian & Pengembangan Keramik
-
Departemen Perindustrian (Dra. Siti Kami Tidja)
-
di tambah beberapa tenaga muda dari BPPT
Produk dari Tim akhirnya lebih dirinci menjadi Master Plan Laboratorium Polimer yang lebih teknis untuk lebih siap dilaksanakan untuk proses pembangunan fisik maupun penyiapan soft side (kompetensi personil). Konsep dasar Master Plan telah menjadi Master Plan Laboratorium Polimer yang disusun bersama dengan konsultan Perancis, ATOCHEM. Dokumen Master Plan ini selesai pada tahun 1984. untuk mendapatkan dana pendirian laboratorium polimer, maka diajukan pinjaman Luar Negeri . melalui Bappenas dan sudah mulai masuk Blue Book Bappenas T-7 untuk tahun anggaran 1985/1986 dengan nama proyek “Project Aid Laboratory of Polymer Technology”. Proses ini tidak sekali jadi, dengan melalui beberapa kali kaji ulang dan pengajuan yang berulang terus menerus setiap tahun sampai tahun anggaran 1992/1993. Dalam kurun waktu 1985/1986 sd 1992/1993 tim tidak tinggal diam dan menunggu persetujuan. Pembinaan soft side sudah dimulai yaitu dengan tetap melakukan pekerjaan-pekerjaan, pembelajaran, proses belajar di Luar Negeri dalam bidang Teknologi Plastik. Kaji ulang terhadap Master Plan juga dilakukan guna penyesuaian-penyesuaian kembali atas kondisi lingkungan yang terus bergulir mengalami perubahan dan perkembangan. Maka pada tahun 1988 dilakukan kaji Ulang Master Plan Laboratorium Polimer bekerja sama dengan konsultan Perancis pula yaitu CERLAB.
Era 1990 - 2000
Master Plan fisik untuk bangunan Laboratorium disusun pada tahun 1989 oleh tim dari PUSPIPTEK-BPPT dengan kerjasama Konsultan bidang Sipil dan Arsitek yaitu ARCHITEN. Dengan tampilnya Project ini dalam Blue Book Bappenas, ibarat seperti terpajang di Etalase, maka beberapa peminat penyandang dana juga melakukan penjajagan kelayakan proyek ini untuk didanai. Penjajagan awal pihak Voest Alpine Industrial Services (VAIS) dari Austria dimulai pada 19 November 1993 dengan kunjungannya ke BPPT. Semua perkembangan ini dilaporkan oleh Deputi Bidang Pengembangan Teknologi yang kala itu dijabat Dr.Ir. Ashwin Sasongko S, M.Sc. kepada Menristek pada tanggal 4 Oktober 1994 melalui surat No 154/PT/BPPT/X/94. Selanjutnya listing di Bappenas menjadi BLUE BOOK BAPPENAS 940148 mulai tahun anggaran 1994/1995. Sebagai bagian dari penajaman Master Plan, maka perlu adanya konsep “Self Supporting”, yaitu proyek yang akan dibiayai, akan mampu membiayai dirinya sendiri kelak setelah berdiri dan beroperasi. Dengan konsep “Self Supporting” itulah maka Tim harus melengkapi Master Plan dengan Bisnis Plan yang didasarkan pada Studi Pasar. Untuk keperluan itulah maka pada tahun 1994 dilakukan studi pasar oleh Tim dari BPPT dari Direktorat Teknologi Proses Industri, sehingga untuk ke-dua kalinya Master Plan mengalami kaji Ulang. Pada 2 Juli 1996 proses pembangunan gedung dimulai, maka Tim Pelaksana Pengembangan Laboratorium Polimer-pun dibentuk melalui SK Deputi Ketua Bidang Pengembangan Teknologi No 04/SK/Dep PT/BPPT/VII/1996. Pembangunan Fisik Laboratorium gedung dimulai pada tahun anggaran 1996/1997 oleh Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUSPIPTEK). Mulai tahun 1996 proses LPKP antara BPPT – Depkeu dan BAPPENAS. Persetujuan proyek oleh Otoritas Austria terbit pada 9 Oktober 1996 dan pada 30 Oktober 1996 keluar persetujuan proyek oleh OECD berdasar surat dari kedutaan Austria. Sedangkan persetujuan Bappenas perihal: “Development Project of Polymer Laboratori” terbit pada 8 November melalui surat No 6504/D.VII/11/1996. Pembelian peralatan mulai diproses sejak Mei 1997 melalui Panitia Pengadaan Peralatan Laboratorium Teknologi Proses/Sub Laboratorium Polimer dengan SK Nomor: SK/142/M/V/1997. Proses Negosiasi teknis dan harga peralatan antara tim pengadaan dan VAIS dilakukan sejak November 1997 sd Januari 1998. Hasil negosiasi dilaporkan ke Ketua Direksi PUSPIPTEK (11 Februari 1998) dan selanjutnya Direksi PUSPIPTEK melaporkan kepada Menristek/Kepala BPPT (16 Februari 1998) dan Menristek meminta persetujuan kepada Tim Evaluasi Proyek (TEP) (Menko Ekku Wasbang) pada tanggal 25 Februari 1998. Surat persetujuan atas biaya peralatan disetujui oleh TEP melalui jawaban surat kepada Menristek pada 21 April 1998 melalui surat bernomor: R-30/TEP.M.EKUIN/1998. Pada 5 Mei 1998 dilaksanakan penandatanganan Kontrak Pengadaan antara VAIS dan PUSPIPTEK (PPIT – BPPT) dengan nomor 08/SP-KD/PPIT/V/98. Pada 31 Juli 1998 Bank Austria menandatangani Loan Agreemen dengan nomor loan 210.748 dan Departemen Keuangan RI menandatangani Loan Agreement pada 9 September 1998. (PWH & STS)