Keramba Apung Plastik Tahan Lama
Salah satu persoalan dalam pembuatan keramba apung saat ini adalah masa pakainya yang relatif pendek. Keramba apung dari kayu cepat lapuk, sedangkan dari drum cepat berkarat karena lama terendam di air. Namun, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi kini menemukan solusinya.
Sentra Teknologi Polimer (STP) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menemukan keramba terapung dari plastik yang bisa tahan sampai 50 tahun. Meski demikian, disarankan agar setiap 15 tahun keramba itu ditinjau ulang.
”Keramba ini pun dengan mudah dibongkar pasang sehingga dapat digunakan di sungai, danau, bahkan perairan di laut,” kata Rachmat Wijaya, perekayasa keramba apung plastik dari STP BPPT, Kamis (13/1), di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong, Tangerang Selatan. Racmat selaku Technical Assistant Manager STP didampingi oleh rekannya, Dody A Winarto (Testing Manager STP).

Keramba apung plastik diteliti sejak tahun 2008. ”Pada waktu itu, pemerintah daerah di Riau memesan konstruksi keramba apung yang terbuat dari plastik untuk pembudidayaan ikan patin di sungai,” kata Rachmat.
Rekayasa sudah berhasil dilaksanakan, tetapi paten yang menunjang produksi massalnya hingga kini belum diperoleh.
Bahan polietilen
Dody menambahkan, konstruksi keramba apung plastik menggunakan bahan polietilen, yaitu bahan pembuat plastik yang banyak kita gunakan sehari-hari, misalnya untuk kantong. Pembuatannya menggunakan bahan baku polietilen dasar yang masih berupa bubuk.
”Daur ulang plastik belum kami coba. Polietilen bubuk paling memungkinkan untuk memperoleh daya tahan dan kekuatan keramba apung plastik paling optimal,” kata Dody.
Plastik daur ulang biasanya dilebur dan dibuat menjadi potongan-potongan kecil yang disebut pelet. Sementara ini masih digunakan bubuk polietilen untuk memperoleh kerapatan plastik yang lebih tinggi sehingga lebih kuat.
Polietilen itu digunakan untuk membentuk ketebalan 8 milimeter pada T-Beam (papan penampang keramba apung plastik). Menurut Dody, rancangan T-Beam sepanjang 4 meter telah diuji ketahanannya mampu menyangga beban 250 kilogram.
Ketika T-Beam diaplikasikan dengan penghubung yang membentuk bujur sangkar, kemampuan menyangga beban mencapai 1 ton sampai 1,5 ton. Jika dibebani lebih dari itu, keramba apung plastik bisa tenggelam.
”Jaring yang dipakai harus menyesuaikan kebutuhan dan mudah didapatkan di pasaran,” kata Dody.
Ukuran jaring untuk penebaran benih tentu dibedakan dengan ukuran jaring pembesaran ikan. Keramba apung plastik dengan sifatnya yang antikarat menjadikannya paling cocok untuk jenis ikan di air asin.
Desain bongkar pasang keramba apung plastik itu dirancang efisien dalam penambahan unit (mounting). Satu unit berukuran 4 meter x 4 meter.
Penambahan unit menyesuaikan bentang lokasi. Jika di sungai, kemungkinannya memanjang. Jika di danau atau di perairan laut, bisa lebih leluasa.
”Investasi untuk pembuatan satu unit yang pernah kami hitung hanya Rp 15 juta,” kata Rachmat. Jika diproduksi secara massal, harga keramba terapung ini bisa lebih murah lagi.